KONSERVASI

 

Taman Hewan Pematang Siantar sebagai sebuah Lembaga Konservasi sampai saat ini mengkonservasi beragam jenis satwa yang terdiri dari koleksi Mamalia sebanyak 201 ekor dari 51 spesies, koleksi Aves 455 ekor dari 113 spesies, dan koleksi Reptil 59 ekor dari 19 spesies. Jumlah keseluruhan satwa koleksi yang dikonservasi di dalam THPS totalnya mencapai sebanyak 715 ekor yang terdiri dari 183 spesies. Sampai saat ini jumlah koleksi yang terdapat di THPS terus bertambah karena THPS memiliki kebijakan konservasi dan penangkaran satwa yang dapat terbilang sukses. THPS dalam menjalankan peranannya sebagai lembaga konservasi sudah memiliki kemampuan yang mandiri dalam melestarikan satwa dan berhasil dalam menangkar satwa yang termasuk langka seperti Siamang, Harimau Putih dan Harimau Sumatera. Selain itu THPS juga kerap menerima sumbangan hewan yang ditangkap oleh masyarakat atau hewan hasil buruan dan peliharaan warga. Diantaranya THPS pernah menerima buaya pemangsa manusia yang tertangkap warga di Kabupaten Labuhan Batu.

Taman Hewan Pematangsiantar juga memiliki beberapa koleksi yang terbilang unik dan tiada duanya di Indonesia, seperti keberadaan seekor Buaya yang dipercaya merupakan Buaya Darat tertua yang berhasil bertahan hidup dalam asuhan manusia dalam Kebun Binatang. Buaya Sinyulong (false gharial) yang telah berumur 76 tahun terhitung pada tahun 2012 tersebut sudah ditampung di Taman Hewan Pematangsiantar sejak berdirinya kebun binatang tersebut pada tahun 1936. Selain keberadaan Buaya Tertua dalam penangkaran, THPS juga memiliki koleksi unik berupa Liger yang murni merupakan hasil penangkaran sendiri oleh THPS, sekaligus menjadikan THPS merupakan satu-satunya kebun binatang di Indonesia yang sukses dalam menangkar Liger, Mamalia Karnivora yang berjenis kucing besar hasil Perkawinan Silang antara Singa dengan Harimau.

Untuk mendukung keberadaan Taman Hewan Pematang Siantar sebagai sarana hiburan, konservasi dan edukasi, THPS dilengkapi pula dengan unit pusat karantina hewan, rumah sakit hewan dan sebuah Museum Zoology dengan koleksi berupa hewan mati yang telah diawetkan dengan menggunakan cairan Formalin. Koleksi museum berasal dari berbagai jenis satwa yang berasal dari dalam dan luar negeri dan mencapai jumlah ± 250 spesies. Koleksi dalam museum zoologi ini berasal dari sumbangan warga, hewan yang mati karena berumur tua atau sakit, dan hasil sumbangan sang pemilik THPS, DR. H. Rahmat Shah yang dahulu kerap mengikuti perburuan satwa legal Big Game di zona berburu dari berbagai belahan dunia. DR. H. Rahmat Shah juga memiliki Museum Zoologi sejenis, yaitu Rahmat’s Gallery yang terletak di Kota Medan dengan koleksi yang lebih lengkap dan ruang eksibisi yang lebih luas daripada Museum Zoologi THPS